Dari rengekan ayam Meneriakkan, dan memekakkan tak habis fikirku setelah itu namun tahulah aku kala mata mulai tertuju dari rengekan pena bambu lejitnya yang membuat dzikir kalbu tapi tak mungkin adalah semuanya tanpa kehadiran hitamnya tinta dan kini, aku menyadari kehadiran kertas putih yang juga berpartisipasi dari kalam Ilahi dan nasihat Guru kala itu mulailah menulis daku dengan penuh teliti tak lupa dari mencermati menghayati meyakini hingga ku hafal semua liku ku tulislah lafadz itu yang kemudian menjadi dzikir, pengingat untuk terus berfikir dari kalam Ilahi yah, dari kalam terMulia di bumi huruf paling simetri paling apik dan cantik kembali aku meneruskan jihadku malam itu meski dengan temaram lampu tak apalah takkan berarti semua itu karna aku meyakini cahaya yang asli hanya dari hati itulah cerita imanku dari sebuah kayu yang bermula di pagi itu tak usahlah merengak karena kantuk tak usahlah meski masih bau mutut dengan belek ya...
irama sajak yang ku jajaki entahlah kau sebut apa ini yang pasti, kalimatku bisa berarti cermin diri