Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Mari, saya persilahkan....

kembalikan saja tak usah terlalu ulas dengan kata tabu saya tetap menunggu mu dalam sajak-sajak lalu terlalu apakah diri ? silahkan.... saya masih disini dalam ombangan gelombang hati terpadu,  terpaku,  dan masih menunggu kepada satu jiwa saja silahkan.... saya tak akan ada tindakan badai-badai itu ombang-ambing perahu kejutan keras si petir silahkan, saya persilahkan bawa saja mereka kembali atau, mari kita berdiskusi dalam kabin tak berlentara disebuah kapal tak bernahkoda                                                                          Semarang, 1 Februari 2017     ...

Dari Rumput Kering

hamparan angkasa, lautan indah merasuk ingatan foya-foya implikasi radiasi dan angan ungkapan sukma ini terajut cerita dari rumput kering suguhan tak ceria bagi si pertapa tumpul sungguh nasib dunia mengapa ia harus kering dalam ketandusan sapuan angin kekeringan bukan suguhan yang terlalu sering namun mengombang ambing gambaran miring yang cukup mendapat ranking dari rumput kering yang tak dapat air cerita ini masih bergulir membangun alur yang membuatku berfikir dari hamparan rumput kering bukan berarti tak sanggup lagi keindahan mampir ini lakonku dalam dilema si pemikir bukan suatu hal tabu tapi bukankah Tuhan sang Maha Adil karenanya ku ceritakan ini belajar dari rumput kering dapatlah menjadi penghangat dingin penghidupan hewan-hewan kelingking  pencipta fikir bagi yang mampir fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?" Semarang, 7 Februari 2017 _ Fifi Flitcher _

Mimpi Semalam

JANJI SUCI Hanya karena aku jatuh Tak berarti aku menjadi jauh Bahkan kala aku semakin terperosok jauh Bukan berarti aku tak mampu kembali Bila mungkin nanti aku menjadi hilang Tak berarti aku hanya jadi kenangan Pelajaran tentang cintamu, membuatku begini Kenangan tentang hadirmu, terus membuatku rindu Tak apalah ini kau sebut bualan saja Karna memang hanya aku yang tahu rasanya Tak apalah mungkin kau tak pernah percaya Tapi sungguh, kini aku meyakininya Putaran otakku kala memahamimu Tak hanya berorientasi sekali Detakan jantung kala melihat bayangmu Sudah tak dapat kuhitung lagi Sunyinya malam kala sepi, cukup menjadi saksi Yakinlah kasih, Aku akan datang menagih janji                                         Semarang, 13 Februari 2017     ...

Iman Kaligrafi

Dari rengekan ayam Meneriakkan, dan memekakkan tak habis fikirku setelah itu namun tahulah aku kala mata mulai tertuju dari rengekan pena bambu lejitnya yang membuat dzikir kalbu tapi tak mungkin adalah semuanya tanpa kehadiran hitamnya tinta dan kini, aku menyadari kehadiran kertas putih yang juga berpartisipasi dari kalam Ilahi dan nasihat Guru kala itu mulailah menulis daku dengan penuh teliti tak lupa dari mencermati menghayati meyakini hingga ku hafal semua liku ku tulislah lafadz itu yang kemudian menjadi dzikir, pengingat untuk terus berfikir dari kalam Ilahi yah, dari kalam terMulia di bumi huruf paling simetri paling apik dan cantik kembali aku meneruskan jihadku malam itu meski dengan temaram lampu tak apalah takkan berarti semua itu karna aku meyakini cahaya yang asli hanya dari hati itulah cerita imanku dari sebuah kayu yang bermula di pagi itu tak usahlah merengak karena kantuk tak usahlah meski masih bau mutut dengan belek ya...

Sajak Baru

dilema baru dari si tuna rungu yang telah lupa akan sajak rindu tahulah mengapa jadi semakin bosan hari ini diri lupa dan melupakan arti kalbu telah terjadi sudah memang di hari itu kala sajak tak ada dan hati jadi gamang biarlah ku jadikan tender di hari nanti bahwa hari tanpa rindu anggap saja sebuah petaka layu barang kali hari kemarin tapi bunga ini bisa tumbuh lagi sekarang hari ini kumulai merindumu lagi sayang lewat sajak yang maaf kemarin tak sempat aku tuliskan senandung naif memang tak ada jejak yang perlu ku jelaskan kemarin berlalu begitu saja tak ada alasan aku cerita biarlah kunyanyikan lagi tentang kita ku muali lagi dari mekarnya bunga di musim semi tak bisa ku perlihat kan memang tapi yakinlah, dia telah berkembang lagi sayang duh, tentang pula salam rindu dari sang rembulan mendongenglah semalam tentang pertapaan si punuk itu tak boleh lah resah meski tak bisa menggapai rembulan tidakkah ia bisa melihatnya setiap malam ...